Wibowo,
pemuda asal Grobogan yang hanya lulusan SD ini tak pernah mau menyerah dengan
keadaan. Demi memperbaiki nasib hidup, ia merantau ke Jakarta meski awalnya
harus bekerja sebagai kuli bangunan dan tukang ojek. Ia lalu merintis usaha
cucui mobil. Usahanya terus berkembang, dan dari situlah titik balik
kehidupannya dimulai. Kini, ia menjadi bos PT. Master Snow Indonesia yang
memiliki ratusan karyawan.
Wibowo
hidup dan tumbuh di tengah keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Bapak ibunya
adalah seorang petani, terkadang menjadi buruh tani di sawah orang lain untuk
menambah peghasilan. Keterbatasan ekonomi membuat Wibowo sudah harus bekerja
untuk mendapatkan uang jajan. Di pagi hari, Bowo, panggilan akrabnya, mencari
daun pisang dan daun jati untuk dijual sebagai bungkus makanan. Setelah lulus
SD, Bowo tak bisa melanjukan ke jenjang selanjutnya karena tak ada biaya. Ia
harus berusaha tegar. Ia kemudian bekerja di sebuah pabrik genteng di daerahnya
dengan gaji Rp.1500/hari.
Saat
bekerja, sudah banyak teman teman sekampungnya yang bekerja di Jakarta sebagai
kuli bangunan. Akhirnya ia meninggalkan pekerjaannya dan berangkat ke Jakarta
sambil
membawa
mimpinya. Pertama kali menjejakkan kaki di Jakarta pada tahun 1996, Bowo
langsung bekerja sebagai kuli bangunan bersama teman teman sekampungnya. Gaji
yang diterimanya waktu itu hanya Rp.5000/hari. Ia sempat berpindah pindah ke
beberapa tempat bangunan. Setelah kurang lebih 2 tahun, Bowo mulai berpikir
untuk bekerja sebagai tukang ojek. Melihat cara kerja tukang ojek yang bebas,
tidak disuruh suruh, dan tidak terikat oleh waktu membuat Bowo memutuskan untuk
meloncat dari kuli bangunan menjadi tukang ojek. Keputusan ini boleh dibilang
nekat. Sebab kala itu Bowo tak punya motor sendiri. Ia terpaksa harus sewa ke
orang lain dengan biaya sewa Rp.6000/hari.
Ternyata
keputusan itu tak salah. Hasil yang didapat Bowo sebagai tukang ojek jauh lebih
besar. Ia bisa mendapatkan rata rata Rp.30000/hari. Penghasilan tersebut
setelah dikurangi bayar sewa motor, bensin, dll sebesar Rp.20000. 3 tahun
lamanya pekerjaan ini Bowo jalani hingga akhirnya mampu membeli motor sendiri.
Menginjak
usia 20 tahun, Bowo memutuskan untuk menikah dengan wanita pujaan hatinya,
Marfungah. Ia juga megerjakan segala pekerjaan sampingan, termasuk berjualan
handphone. Karena sehari harinya mangkal di depan apartemen Metro Sunter,
pelanggan ojeknya pun kebanyakan dari penghuni apartemen tersebut. “Bahkan
beberapa orang yang tinggal di apartemen meminta saya mencucikan mobil mereka.
Waktu itu saya tidak peduli apa yang harus saya kerjakan, yang penting menghasilkan
uang,” katanya.
Pengalaman
cuci mobil membuat Bowo lantas berasumsi bahwa banyak penguni apartemen yang
membutuhkan jasa pencucian mobil. Kemudian ia menemui manajemen apartemen untuk
menyewa ruangan parkir sebagai tempat cuci mobil. Pihak manajemen pun ridak
keberatan.
Awal
tahun 2002, Bowo mulai menjual motor yang sehari harinya digunakan untuk
mengojek untuk menyewa tempat di lantai basement apartemen. Ia menyewa 2 lot
parkir dengan biaya Rp.150000/bulan. Usaha ini ternyata berhasil. Sehari ia
bisa mendapatkan Rp.100000-Rp.150000 dengan tarif sekai cuci Rp.10000.
Pekerjaan ini dilakukannya sendirian.
Bisnisnya
pun kian ramai. Bowo akhirnya mulai mencari anak buah serta mulai melebarkan
sayap ke apartemen apartemen lainnya di Jakarta. Ia pun membuka 5 cabang bisnis
cuci mobil. Namun Bowo merasa ekspansi bisnisnya kurang cepat. Bowo kemudian
mencoba membuka usaha cuci mobil di pinggir jalan. Bowo juga berkeliling
Jakarta, dari bengkel ke bengkel, menjajakan shampo mobil sambil membawa tabung
snow wash yang ia beli dari salah satu perusahaan. Dari berkeliling Jakarta,
Bowo melihat kalau peluang menjual tabung snow wash sangat bagus. Dalam
sebulan, ia bisa menjual empat tabung. Bowo pun terinspiraasi untuk membuat
tabung dan sabun snow wash sendiri. Awalnya Bowo hanya memproduksi 5 buah
tabung berikut shamponya, yang ia jajakan keliling Jakarta. Ia menitipkan
barang produksinya di Pasar Glodok, tempat menjual peralatan teknik. Seiring
meningkatnya permintaan, Bowo juga memperbesar produksinya.
Bowopun
mulai membentuk beberapa agen di luar kota, antara lain di Makassar, Samarinda,
Manado, dan Sumatera. Kini perusahaan Bowo, PT. Master Snow Indonesia, mampu
memproduksi dan menjual sekitar 200-250 tabung snow wash per bulan dan 500-700
galon shampo per bulan. Bahnakn ia sudah mampu mengekspor peralatan peralatan
itu ke Afrika dan India. Memasuki tahun 2009, Bowo mulai membuat outlet outlet
yang tersebat di Jakarta untuk prototipe peralatannya. Bersamaan dengan itu,
perkembangan bisnis cuci mobilnya sendiri juga kian gemilang. Keduannya mampu
digerakkan secara cepat. Dari situ Bowo juga bisa membuka lapangan pekerjaan
bagi banyak orang. Ia memiliki lebih dari 100 orang karyawan yang rata rata
dari kelas menengah kebawah atau putus sekolah. Bowo juga sering memberikan
training bagi mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar