Minggu, 19 Mei 2013

Dari Kuli Bangunan dan Tukang Ojek menjadi Direktur.


Wibowo, pemuda asal Grobogan yang hanya lulusan SD ini tak pernah mau menyerah dengan keadaan. Demi memperbaiki nasib hidup, ia merantau ke Jakarta meski awalnya harus bekerja sebagai kuli bangunan dan tukang ojek. Ia lalu merintis usaha cucui mobil. Usahanya terus berkembang, dan dari situlah titik balik kehidupannya dimulai. Kini, ia menjadi bos PT. Master Snow Indonesia yang memiliki ratusan karyawan.

Wibowo hidup dan tumbuh di tengah keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Bapak ibunya adalah seorang petani, terkadang menjadi buruh tani di sawah orang lain untuk menambah peghasilan. Keterbatasan ekonomi membuat Wibowo sudah harus bekerja untuk mendapatkan uang jajan. Di pagi hari, Bowo, panggilan akrabnya, mencari daun pisang dan daun jati untuk dijual sebagai bungkus makanan. Setelah lulus SD, Bowo tak bisa melanjukan ke jenjang selanjutnya karena tak ada biaya. Ia harus berusaha tegar. Ia kemudian bekerja di sebuah pabrik genteng di daerahnya dengan gaji Rp.1500/hari.

Saat bekerja, sudah banyak teman teman sekampungnya yang bekerja di Jakarta sebagai kuli bangunan. Akhirnya ia meninggalkan pekerjaannya dan berangkat ke Jakarta sambil
membawa mimpinya. Pertama kali menjejakkan kaki di Jakarta pada tahun 1996, Bowo langsung bekerja sebagai kuli bangunan bersama teman teman sekampungnya. Gaji yang diterimanya waktu itu hanya Rp.5000/hari. Ia sempat berpindah pindah ke beberapa tempat bangunan. Setelah kurang lebih 2 tahun, Bowo mulai berpikir untuk bekerja sebagai tukang ojek. Melihat cara kerja tukang ojek yang bebas, tidak disuruh suruh, dan tidak terikat oleh waktu membuat Bowo memutuskan untuk meloncat dari kuli bangunan menjadi tukang ojek. Keputusan ini boleh dibilang nekat. Sebab kala itu Bowo tak punya motor sendiri. Ia terpaksa harus sewa ke orang lain dengan biaya sewa Rp.6000/hari.

Ternyata keputusan itu tak salah. Hasil yang didapat Bowo sebagai tukang ojek jauh lebih besar. Ia bisa mendapatkan rata rata Rp.30000/hari. Penghasilan tersebut setelah dikurangi bayar sewa motor, bensin, dll sebesar Rp.20000. 3 tahun lamanya pekerjaan ini Bowo jalani hingga akhirnya mampu membeli motor sendiri.

Menginjak usia 20 tahun, Bowo memutuskan untuk menikah dengan wanita pujaan hatinya, Marfungah. Ia juga megerjakan segala pekerjaan sampingan, termasuk berjualan handphone. Karena sehari harinya mangkal di depan apartemen Metro Sunter, pelanggan ojeknya pun kebanyakan dari penghuni apartemen tersebut. “Bahkan beberapa orang yang tinggal di apartemen meminta saya mencucikan mobil mereka. Waktu itu saya tidak peduli apa yang harus saya kerjakan, yang penting menghasilkan uang,” katanya.

Pengalaman cuci mobil membuat Bowo lantas berasumsi bahwa banyak penguni apartemen yang membutuhkan jasa pencucian mobil. Kemudian ia menemui manajemen apartemen untuk menyewa ruangan parkir sebagai tempat cuci mobil. Pihak manajemen pun ridak keberatan.

Awal tahun 2002, Bowo mulai menjual motor yang sehari harinya digunakan untuk mengojek untuk menyewa tempat di lantai basement apartemen. Ia menyewa 2 lot parkir dengan biaya Rp.150000/bulan. Usaha ini ternyata berhasil. Sehari ia bisa mendapatkan Rp.100000-Rp.150000 dengan tarif sekai cuci Rp.10000. Pekerjaan ini dilakukannya sendirian.

Bisnisnya pun kian ramai. Bowo akhirnya mulai mencari anak buah serta mulai melebarkan sayap ke apartemen apartemen lainnya di Jakarta. Ia pun membuka 5 cabang bisnis cuci mobil. Namun Bowo merasa ekspansi bisnisnya kurang cepat. Bowo kemudian mencoba membuka usaha cuci mobil di pinggir jalan. Bowo juga berkeliling Jakarta, dari bengkel ke bengkel, menjajakan shampo mobil sambil membawa tabung snow wash yang ia beli dari salah satu perusahaan. Dari berkeliling Jakarta, Bowo melihat kalau peluang menjual tabung snow wash sangat bagus. Dalam sebulan, ia bisa menjual empat tabung. Bowo pun terinspiraasi untuk membuat tabung dan sabun snow wash sendiri. Awalnya Bowo hanya memproduksi 5 buah tabung berikut shamponya, yang ia jajakan keliling Jakarta. Ia menitipkan barang produksinya di Pasar Glodok, tempat menjual peralatan teknik. Seiring meningkatnya permintaan, Bowo juga memperbesar produksinya.

Bowopun mulai membentuk beberapa agen di luar kota, antara lain di Makassar, Samarinda, Manado, dan Sumatera. Kini perusahaan Bowo, PT. Master Snow Indonesia, mampu memproduksi dan menjual sekitar 200-250 tabung snow wash per bulan dan 500-700 galon shampo per bulan. Bahnakn ia sudah mampu mengekspor peralatan peralatan itu ke Afrika dan India. Memasuki tahun 2009, Bowo mulai membuat outlet outlet yang tersebat di Jakarta untuk prototipe peralatannya. Bersamaan dengan itu, perkembangan bisnis cuci mobilnya sendiri juga kian gemilang. Keduannya mampu digerakkan secara cepat. Dari situ Bowo juga bisa membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Ia memiliki lebih dari 100 orang karyawan yang rata rata dari kelas menengah kebawah atau putus sekolah. Bowo juga sering memberikan training bagi mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar