Tren kembalinya masyarakat ke herbal ini terutama disebabkan oleh keyakinan bahwa herbal lebih aman dan bahwa obat tidak menjadi pengganti yang memuaskan untuk semua praktik perawatan kesehatan yang telah diandalkan selama berabad-abad.
Namun sebagian orang yang ingin mendapatkan yang terbaik baik dari kemanjuran herbal maupun farmasi. Dan memilih mengonsumsi obat sintetis yang dikombinasi dengan herbal. Apakah mencampur minum herbal dan obat obatan kimiawi aman bagi pengonsumsinya? Inilah yang perlu diketahui masyarakat. Hal itu perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan interaksi herbal dan obat.
Interaksi herbal dan obat
Ketika herbal dan obat digunakan bersama sama, mereka dapat berinteraksi dalam tubuh anda, menyebabkan perubahan dalam cara kerja keduanya. Perubahan itu disebut interaksi herbal dan obat, yang dapat bermanfaat atau berbahaya bagi anda, tergantung mekanismenya. Beberapa contoh interaksi yang mungkin terjadi adalah:
1. Meningkatkan efek samping obat, mungkin menyebabkan keracunan.
2. Mengurangi efek terapi obat, mungkin menyebabkan kegagalan pengobatan. Interaksi juga dapat menyebabkan resistensi obat, sehingga membatasi pilihan pengobatan di masa depan.
3. Meningkatkan efek terapi obat, mungkin menyebabkan overdosis.
4. Memodifikasi kerja obat, mungkin dapat menyebabkan komplikasi yang tak terduga.
5. Mekanisme interaksi herbal dan obat dapat dibagi menjadi beberapa kategori umum : interaksi farmakokinetik (penyerapan, distribusi, metabolisme, dan ekskresi obat) dan interaksi farmakodinamik (efek farmakologi gabungan dari obat)
a. Interaksi farmakokinetik
Interaksi farmakokinetik melibatkan perubahan dalam cara herbal dan obat beredar melalui tubuh anda dan dapat mengubah jumlah atau kadar obat dalam tubuh anda. Jika interaksi meningkatkan kadar obat, anda mungkin akan mengalami efek samping dan/atau keracunan. Jika interaksi menrunkan kadar obat, Anda kurang mendapatkan efeknya, mungkin menyebabkan kegagalan pengobatan dan/atau resistensi obat. Ada beberapa tempat dalam tubuh anda dimana interaksi tersebut dapat terjadi:
1. Perut (saluran pencernaan)
Ketika obat dan herbal diambil secara oral, mereka diserap ke dalam aliran darah melalui lambung. Herbal dapat mempengaruhi penyerapan obat dan menyebabkan perubahan jumlah obat yang masuk ke aliran darah. Sebagai contoh, beberapa herbal dapat mengubah lingkungan fisik perut, seperti tingkat pH, sementara yang lain mungkin mengikat obat, menyebabkan obat tetap berada di perut, bukannya memasuki aliran darah. Beberapa herbal bisa mempercepat proses pencernaan, mengurangi masa kehadiran obat untuk diserap oleh lambung.
2. Hati
Setelah memasuki aliran darah, obat harus dimetabolisme oleh hati agar menjadi aktif atau dihapus dari aliran darah. Hati berperan penting dalam mengontrol tingkat dan efektifitas dalam tubuh anda. Herbal dapat mengubah metabolisme hati dengan merangsang atau menghambat enzim hati.
3. Ginjal
Beberapa obat dikeluarkan dari aliran darah melalui ginjal. Pengaruh herbal terhadap fungsi ginjal dapat mengubah kadar obat dalam darah. Jika herbal mengurangi fungsi ginjal , kadar obat dalam darah dapat meningkat, jika herbal meningkatkan fungsi ginjal, kadar obat dalam darah menurun.
b. Interaksi farmakodinamik
Interaksi farmakodinamik mengacu pada tindakan gabungan herbal dan obat. Ketika diambil pada saat yang sama, herbal dan obat dapat bekerja bersama (sinergis) atau berlawanan (antagonistis). Misalnya secara terpisah mereka memiliki efek samping yang sama, sehingga ketika diambil bersama sama menyebabkan efek samping meningkat. Banyak interaksi herbal dan obat termasuk dalam kategori ini. Interaksi farmakodinamik sulit diprediksi atau dicegah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar